Surabaya, centralberitanews.com – Pelatihan Hukum Laut Antara Universitas Hangtuah dan ISILL (Academy on Law of the Sea) secara Resmi ditutup secara resmi oleh Rektor UHT Laksamana Muda TNI (Purn.) Dr. Ir. Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng., berlangsung di Gedung Lange Majapahit Koarmada II Ujung Surabaya Kamis (13/08/2026).
Acara penutupan dihadiri Sejumlah pakar hukum laut internasional dari Indonesia maupun mancanegara Di antaranya Prof. Etty R. Agoes, S.H., LL.M., Laksamana Muda TNI (Purn.) Dr. Iwan Isnurwanto, S.H., M.A.P., M.Tr.(Han.), Prof. Stuart Kaye, OAM, Prof. Arie Afriansyah, S.H., MIL., Ph.D., Prof. Dra. Sri Wartini, S.H., M.H., Ph.D., serta Prof. Dhiana Puspitawati, S.H., LL.M., Ph.D.
Ketua ISILL Prof. Arie Afriansyah, S.H., MIL., Ph.D., mengatakan ISILL Academy dirancang untuk mempertemukan perspektif akademik dan praktik dalam bidang hukum laut.
Rektor UHT Laksamana Muda TNI (Purn.) Dr. Ir. Avando Bastari, M.Phil., M.Tr.Opsla., IPM., ASEAN Eng., dalam sambutanya sampaikan apresiasi kepada Bapak Panglima Koarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., beserta seluruh jajaran yang telah berkenan memberikan kunjungan dengan menghadirkan KRI yang merupakan Kapal Latih penegakan hukum di laut dan juga ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada para peserta untuk mengikuti sailing di perairan ALKI II Alur Pelayaran Barat Surabaya.

Lebih lanjut Rrktor UHT menyapaikan kepada Bagi para peserta, pelatihan ini bukan sekadar perjalanan dengan kapal, tetapi sebuah pengalaman akademik dan maritim yang sangat berharga sehingga para peserta dapat melihat lebih dekat lingkungan kapal, bagaimana aplikasi hukum laut di lapangan, sekaligus memperoleh perspektif mengenai peran TNI Angkatan Laut dalam penegakan hukum laut dan keamanan maritim.
*Pengalaman seperti ini tentu tidak mudah diperoleh dalam pelatihan hukum laut pada umumnya. Inilah salah satu nilai tambah yang ingin dihadirkan Universitas Hang Tuah sebagai *kampus maritim* mempertemukan pembelajaran akademik dengan pengalaman nyata di lapangan.
*Rangkaian kegiatan hari ini sekaligus memberikan pelajaran penting bahwa hukum laut tidak berhenti pada teks konvensi, peraturan, ataupun teori di ruang kelas. Hukum laut benar-benar bermakna ketika berhadapan dengan realitas di laut.
*Melalui materi mengenai peran Angkatan Laut dalam penegakan hukum laut dan keamanan maritim, serta diskusi reflektif tentang hukum laut dalam praktik operasional, kita melihat adanya perjumpaan antara teori dan praktik, akademisi dan praktisi, serta pemikiran hukum dan realitas operasi di lapangan.
*Inilah pendekatan yang perlu terus kita kembangkan apabila Indonesia ingin memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya memahami hukum laut secara konseptual, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menjawab persoalan-persoalan strategis nasional.
Bagi Universitas Hang Tuah, kegiatan ini memiliki arti penting karena kemaritiman merupakan jati diri universitas. Oleh karena itu kami memiliki tanggung jawab untuk terus membangun ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia akademik, praktisi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan maritim.
Saya berharap kerjasama ini tidak berhenti setelah pelatihan ini selesai, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pelatihan lanjutan, penelitian bersama, publikasi ilmiah, maupun forum-forum akademik yang memperkuat pengembangan hukum laut Indonesia.
Kepada seluruh peserta, saya titipkan pesan:
Jangan biarkan pelatihan ini berakhir hanya dengan sebuah sertifikat. Bawalah pulang pengetahuan, pengalaman, dan perspektif baru yang diperoleh hari ini. Kembangkan menjadi penelitian, tulisan ilmiah, bahan pengajaran, rekomendasi kebijakan, maupun kontribusi nyata di lingkungan tugas masing-masing.
Karena pada akhirnya, kompetensi hukum laut yang kita bangun bukan hanya untuk memperkuat kapasitas akademik, tetapi juga untuk memperkuat kemampuan bangsa dalam menjaga kedaulatan, mengelola sumber daya, menegakkan hukum, dan memperjuangkan kepentingan Indonesia di laut.
Pada saat pembukaan saya sampaikan bahwa kekuatan maritim suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh armada dan teknologi yang dimilikinya, tetapi juga oleh kualitas pemikiran para akademisi yang mampu mengembangkan hukum laut sebagai instrumen kedaulatan, keadilan, dan perdamaian.
Dan pada penghujung kegiatan ini, saya ingin meninggalkan satu harapan: semoga dari pelatihan ini lahir bukan hanya orang-orang yang memahami hukum laut, tetapi insan-insan yang mampu menggunakan pengetahuan hukum laut untuk menjaga kepentingan maritim Indonesia.”Pungja Rektor.
(@.prm).
